(Kisah Ka’ab Bin Malik – Bagian 1)

Rangkuman Tausiyah di Masjid Agung Al-Azhar (11 Januari 2017)

Oleh: Ust. Muhammad Nuzul Dzikri

Mengulik sejarah perkembangan Islam, tercatat pada tahun 9 H atau 630 M telah terjadi suatu peperangan yang besar yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Perang tersebut adalah Perang Tabuk. Perang antara tentara muslim melawan pasukan Bizantium (Romawi Timur) yang dikenal kuat dan memiliki kekuasaan yang luas saat itu.

Pada tausiyah rutin mingguan yang diadakan di Masjid Agung Al-Azhar ba’da isya kali ini (11/1/2017), tidak mengangkat apa yang terjadi di peperangan tersebut. Namun, mengangkat kisah di balik perang itu, yaitu kisah tentang Ka’ab Bin Malik yang disebut-sebut menjadi salah seorang pahlawan dari perang Tabuk yang justru tidak mengikuti perang itu sendiri.

Siapakah Ka’ab Bin Malik?

Pemuda yang bermukim di Madinah ini adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang memiliki semangat yang tinggi dalam berjihad. Beliau tercatat telah banyak mengikuti perang-perang lain sebelumnya. 20 lebih perang telah diikutinya kecuali perang Badr dan Perang Tabuk ini yang tidak diikutinya.

Pada Perang Tabuk ini tidak seperti perang-perang lainnya, yang mana biasanya Rasulullah SAW tidak secara terang-terangan menjelaskan arah tujuan perangnya untuk menghindari mata-mata yang akan membocorkan rencana atau strategi perang Rasulullah SAW. Biasanya bila arah perang ke barat, Rasulullah SAW membawa pasukannya terlebih dahulu ke arah lain, ke timur, utara atau selatan terlebih dahulu. Namun, untuk perang terakhir Rasulullah SAW ini, beliau langsung mengumumkan secara terang-terangan tujuan perang ke Romawi Timur untuk melawan pasukan Bizantium.

Jarak yang cukup jauh yang perlu ditempuh oleh tentara muslim dari Madinah ke Romawi Timur, sekitar 800 km lebih. Perjalanan berat yang harus ditempuh dengan melalui padang pasir dan perbukitan cadas yang memakan waktu hingga 20 hari. Dengan kondisi saat itu yang sangat panas, bisa mencapai di atas 50 derajat celcius.

Mendengar ajakan Rasulullah SAW, kontan semua kaum muslimin merespon dengan bersemangat untuk mengikutinya. Banyak sahabat Rasul yang berlomba-lomba untuk menyumbangkan hartanya di jalan Allah untuk kebutuhan perang. Utsman Bin Affan menyedekahkan 900 unta, 100 kuda dan 1000 dinar. Abdurahman bin Auf menyumbang 200 uqiyah perak, yang satu uqiyah sama dengan 40 dirham, tak lupa Umar Bin Khattab yang menyumbangkan setengah hartanya, juga Abu Bakr yang seluruh hartanya untuk peperangan ini.

Tapi ternyata ada saja kaum munafik yang saat itu memilih untuk tetap tinggal di Madinah yang saat itu sedang menikmati panen raya. Akhirnya yang tinggal adalah kaum munafik, orang-orang udzur, wanita, anak-anak dan sebagian kecil sahabat yang tak mendapatkan tunggangan padahal mereka sangat ingin berperang. Tiga sahabat Rasulullah juga memilih untuk tinggal menikmati kenikmatan dunia ketimbang ikut berperang. Salah satunya adalah Ka’ab Bin Malik. Dan yang lainnya adalah Ali Bin Abi Thalib yang diminta Rasul untuk tinggal mengawasi anak-anak dan wanita di Madinah.

Apa dan mengapa Ka’ab Bin Malik tidak mengikuti perang ini? Bukan karena udzur syar’i atau halangan apapun, tapi ternyata semata karena kealfaan dan kebodohannya. Murni karena kelalaiannya, yaitu menunda-nunda untuk mempersiapkan diri dalam perbekalan untuk berperang.

Ia mengatakan: “Aku sama sekali tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasululah SAW, kecuali dalam perang Tabuk. Perihal ketidakikutsertaanku dalam perang Tabuk itu adalah karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia, ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memilikinya.

Oleh karena ia menunda-nunda, akhirnya ia ditinggal oleh kafilah. Sempat ia berfikir akan dapat menyusul, namun tetap tidak sempat menyusul akhirnya. Beliau benar-benar tertinggal oleh kafilah yang berangkat berperang bersama Rasulullah SAW. Dimana perang ini adalah perang terakhir yang diikuti Rasulullah sebelum beliau wafat. Ka’ab Bin Malik amat terpukul begitu melihat kenyataan dimana saat berjalan-jalan di kota Madinah, orang-orang yang tinggal selain anak-anak, wanita-wanita, orang tua dan yang udzur, hanya orang munafik. Ia merasa terkucilkan, karena merasa bukan termasuk dari golongan yang ditinggal tsb, kecuali Ali Bin Abi Thalib yang memang mendapatkan tugas khusus dari Rasulullah SAW. (JM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *