Seri Kajian Masjid Al-Azhar oleh Ust. Muhammad Nuzul Dzikri, LC.

Pada pekan sebelumnya kita telah membahas bagaimana profil Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, beliau ialah salah seorang sosok sahabat Nabi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, yang pernah mengikuti bai’at Aqobah, janji setia kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun Ka’ab nin Malik ra kemudian khilaf, luput mengikuti ajakan perang Tabuk oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Dialah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, sosok pahlawan di perang Tabuk, walaupun dirinya tidak mengikuti perang Tabuk tersebut. Tapi dialah sosok inspirator. Khususnya inspirasi bagi orang-orang yang telah melakukan kesalahan di masa lalunya, inspirasi bagi orang yang memilih bangkit dari kesalahannya, inspirasi bagi orang yang ingin memperbaiki ‘raport merahnya’.

Sebagaimana telah kita bahas pada pekan sebelumnya, kekhilafan Ka’ab bin Malik ra, tidak mengikuti perang Tabuk karena dua kesalahan fatal yang dilakukannya; Pertama, dia terlalu mengandalkan kemampuan dan prestasi diri dan, Kedua, dia menunda-nunda pekerjaannya sehingga tiba waktunya dirinya ketinggalan rombongan Rasulullah saw ke Tabuk.

 

 

Ka’ab menceritakan kisahnya pada hadits yang panjang diriwayatkan oleh Imam Bukhari; – _yang telah kami publikasikan pekan lalu (Red)_ -, bahwa begitu banyaknya sahabat dan partisipan kaum muslimin yang berangkat ke perang Tabuk, Rasulullah saw, belum tersadar kalau Ka’ab bin Malik ra tidak ikut, hingga Rasulullah saw tiba di Tabuk.

Karena begitu tiba di Tabuk, Rasulullah saw menanyakan kabar keadaan Ka’ab. Karena Rasulullah saw memang dikenal sebagai pribadi yang hangat dan penuh perhatian kepada sahabat-sahabatnya.

_”Apa yang dilakukan oleh Ka’ab bin Malik?”_

Sejurus kemudian sontak seorang dari golongan Bani Salimah menjawab:

_”Ya Rasulullah, ia ditahan oleh pakaian indahnya dan oleh keadaan sekelilingnya yang permai pandangannya.”_

Disinilah momen terbangun bagaimana Ka’ab lengah dengan dunia. Dirinya dianggap lebih mencintai dunia, daripada berperang di jalan Allah swt. Ka’ab lengah sehingga sibuk dengan dunianya, sibuk dengan panen kurma yang melimpah, sibuk dengan bersantai, dan sibuk menikmati nikmat dunia di Madinah, daripada berjalan ratusan kilometer dalam cuaca panas yang ekstrem.

Mendengar jawaban yang menyudutkan Ka’ab tersebut, Mu’az bin Jabal ra langsung berkata:

_”Buruk sekali yang kau kataKan itu. Demi Allah ya Rasulullah, kita tidak pernah melihat keadaan Ka’ab itu kecuali yang baik-baik saja.”_

Inilah pelajaran bagi kita, lihat bagaimana karakter kesetiakawanan para sahabat. Mereka tetap membela saudaranya ketika mendengar sesuatu yang buruk mengenai saudaranya. Anak muda yang _ngaku_ beriman harus bersuara membela ketika saudaranya dighibahi, sebagaimana Mu’az bin Jabal ra bersuara membela Ka’ab.

Tindakan membela saudaranya ini tak lain karena mereka mengamalkan salah satu hadits Nabi saw;

_“Barang siapa membela daging (kehormatan) saudaranya dari gunjingan orang lain, maka Allah pasti akan membebaskannya dari Neraka.”_  [HR. Ahmad]

Itulah karakter muslim sejati. Jika ada saudara, teman, kerabatnya sedang dijelekin, jangan kita pilih diam. Apalagi janganlah kita menikmati. Atau lebih parah; jangan sampai malah kita ikut menghabisi daging saudara kita sendiri dengan ikut-ikutan menggibahinya. Karena Rasulullah saw bersabda:

_”Barang siapa yang tidak membela saudaranya sesama muslim pada saat kehormatan dan harga dirinya dilecehkan, maka Allah pasti tidak akan membelanya pada saat pertolongan Allah sangat diharapkan.”_ [HR. Abu Dawud & Imam Ahmad].

Kita kembali ke kisah Ka’ab bin Malik ra, mendengar dua versi ucapan orang-orang sekelilingnya, Nabi terdiam. Nabi tidak membenarkan ucapan Mu’az bin Jabal ra, namun tidak membela pula _statement_ sebelumnya.

Sejurus kemudian dalam terdiamnya Rasulullah saw, muncul sesosok yang memakai jubah putih menembus oase pada saat itu. Melihat sosok tersebut, Rasulullah saw menyampingkan sejenak perihal Ka’ab, lalu menaruh atensi penuh kepada orang yang sedang mendekat ke dirinya.

Dialah Abu Khaitsamah al Anshari ra. Tentunya ada hal yang luar biasa dari sosok Abu Khaitsamah al Anshari ra, hingga Rasulullah sawsejenak tak menghiraukan perihal Ka’ab dan menaruh perhatian ke Abu Khaitsamah al saw.

Rasulullah Shallallahu’alaihi saw bersabda:

_”Engkaukah Abu Khaitsamah?”_

Dialah memang Abu Khaitsamah al Anshari, orang yang pernah bersedekah dengan se sha’ kurma untuk mendukung perang Tabuk, sekalipun dicibir orang-orang munafik. Sekalipun dicaci orang, sekalipun dicela orang, Abu Khaitsamah tetap menegakkan amalan sedekah sesuai dengan kemampuannya dan dengan hati yang ikhlas.

Ya, itulah ciri orang munafik.  Hanya bisa _comment_ namun miskin amal. Demikiannya kita hidup di era yang mudah melempar komentar. Namun sedikit berbuat. Demikiannya Allah swt telah berfirman dalam surat At Taubah ayat 79:

Allah Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya:

_(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih._ (QS: At Taubah:79)

Selain itu, tindakan Abu Khaitsamah al Anshari ra membuahkan penegakkan prinsip di atas agama. Dirinya tidak terpengaruh apapun kata orang sekelilingnya. Pantas adanya jika kita mengambil keteladanan sikap ini; janganlah kita mudah terpengaruh omongan orang lain. Tidak perlui kita sampai diperbudak opini yang tidak jelas. Karena pada prinsipnya kita sudah memiliki _trendsetter_  yang jelas, yakni teladan kita Muhamm

ad saw.

Tak sampai disitu, Abu Khaitsamah sempat tergoda untuk kembali ke Madinah karena panas dan beratnya medan yang akan dilalui dalam perjalanan ke Tabuk. Namun serta merta benaknya berteriak meluruskan kembali niatnya, sehingga mantap kembali menyusul ke Tabuk sampai mendapatkan senyum dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di oase pada daerah Tabuk.

Itulah karakter mukmin sejati. Orang yang bijak adalah orang bisa bangkit dari keterpurukan khilaf dosa. Karena Allah swt telah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٣٥)

Artinya:

_Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui._ (QS: Ali Imran: 133-135).

Itulah Abu Khaitsamah, teladan untuk orang-orang yang apabila yang mengerjakan dosa yang besar, atau dia mendzalimi dirinya sendiri. Langsung kembali ke Allah Jalla Jalaluhu. Tidak mau terpuruk dosa lama-lama. Memilih bangkit dan _move on_ dari dosa dengan taubat sebaik-baik taubat.

Sejenak dari sekilas kisah Abu Khaitsamah  ra, kita kembali ke kisah Ka’ab bin Malik ra.

_”Setelah ada berita yang sampai di telingaku bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah menuju kembali dengan kafilahnya dari Tabuk, maka datanglah kesedihanku..”_

Ka’ab mengalami  kesedihan. Demikian singkatnya perang Tabuk, sehingga dirinya gagal menyusul dan mendapat kabar rombongan Rasulullah saw telah kembali ke Madinah.

Singkatnya durasi perang Tabuk, karena di medan perang tidak ada adu pedang. Karena di Tabuk tidak ada adu tombak dan senjata. Karena di Tabuk, ternyata tidak didapat kemunculan tentara Romawi. Membuat kondisi pasukan kaum muslimin pada saat itu menang ‘WO’.

Ketiadaan pasukan Romawi di Tabuk, semata karena Allah swt hanya ingin menguji keyakinan kita kepada-Nya. Demikiannya tak ubahnya dengan kondisi kita saat ini. Kerap kenyataan tidak semenakutkan mimpi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya ingin menguji kita. Allah  swt melihat sejauh mana _effort_ kita Allah swt  hanya ingin menguji keikhlasan kita kepada-Nya.

Itulah ujian yang ada. Karena jika ujian berhasil dilalui dengan baik, _ending_ yang baik hanya untuk orang-orang yang bertaqwa. Karena balasan tersebut adalah surga, sementara surga bukanlah barang murah.

Ternyata tidak ada peperangan di Tabuk. Tentu ujian yang disangka berat oleh kaum munafik yang memilih mangkir ajakan perang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam ternyata tidak seberat yang dipikirkan. Itulah ujian dari Allah swt.

Dan setan memanfaatkan kondisi tersebut. Hasutan syaithon telah menggulirkan rasa ragu dan was-was di hati manusia. Sebagaimana firman Allah swt:

.. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) …

Artinya:

_Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia._ (QS: An Nas:4-5).

 

Kembali ke kisah Ka’ab; tentu mendengar Rasulullah saw telah mengarah pulang ke Madinnah menerbitkan kesedihan Ka’ab. Kalut, was-was, cemas, ragu turut menyertai perasaan Ka’ab.

Pasalnya, di hati Ka’ab sempat muncul untuk berdusta guna mencari-cari alasan ketidak-sertaanya dalam berperang ke Tabuk, agar tidak mendapatkan hukuman Rasulullah saw.  Karena dirinya mengakui, dirinya telah terpedaya dengan nikmat dunia yang terdapat di Madinnah. Karena memang dunia yang telah menipunya. Tak sedikit dosa-dosa termuncul dipicu oleh cinta dunia yang berlebihan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

Artinya:

_Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir._ (QS: At Taubah: 55)

Namun di sinilah Ka’ab bin Malik ra mengambil sikap yang bijak. Sebelum dipilih tindakan tersebut, dirinya meminta bantuan dan nasehat dari keluarganya dan saudaranya yang sholeh-sholeh. Hingga mantap hatinya untuk meninggalkan langkah berdusta mencari alasan dan lebih baik jujur secara ksatria kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

_”Saya pun meminta bantuan untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ini dengan setiap orang yang banyak mempunyai pendapat dari golongan keluargaku. Setelah diberitahukan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah tiba maka lenyaplah kebathilan dari jiwaku – yakni keinginan akan berdusta itu – sehingga saya mengetahui bahwa saya tidak dapat menyelamatkan diriku dari kemurkaannya itu dengan sesuatu apapun untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu saya menyatukan pendapat hendak mengatakan secara sebenarnya.”_

Ka’ab memilih jalan musyawarah dengan orang-orang sholeh ketika muncul di hatinya pikiran-pikiran kotor. Ka’ab semakin yakin dan mantap, bahwa berbohong adalah langkah bunuh diri. Maka dirinya bertekad untuk jujur apa adanya.

Rasulullah saw tiba di Madinnah pada waktu dhuha. Dan kegiatan pertama Rasulullah saw setibanya di Madinnah adalah menegakkan salat 2 rakaat di masjid. Inilah sunnah Rasulullah saw yang kian dilupakan, sunnah yang kian langka diamalkan. Hendaknya sepulang safar, dirikanlah 2 rakaat salat sunnah di masjid sebelum melanjutkan kegiatan rutinitas.

 

Setelah Rasulullah saw salat 2 rakaat di masjid, beliau keluar kemudian datanglah 80-an orang dari golongan munafik untuk menyampaikan alasan-alasan dustanya tidak mengindahkan anjuran berperang di jalan Allah ke Tabuk.

Tapi ini pelajarannya: Rasulullah saw serta merta hanya tersenyum. Beliau menerima alasan-alasan mereka, beliau tidak membantah ucapan orang-orang munafik. Dan Rasulullah saw memilih untuk mengembalikan hakikat mereka kepada Allah saw. Inilah salah satu akhlaq Rasulullah saw yang teladan.

Bahkan Rasulullah saw berisitghfar untuk mereka. Rasulullah saw memohon kepada Allah swt untuk memberikan ampun kepada orang-orang munafik tersebut.

Dan setelah menerima kaum munafik, tibalah giliran Ka’ab bin Malik ra untuk menyampaikan alasannya kenapa tidak ikut berperang ke Tabuk, yang insya Allah kita akan bahas lebih detail kisahnya selanjutnya dan peristiwa-peristiwa di Tabuk pada Rabu pekan ini. (HJ)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *